Archive: Blog Desain

Melipatgandakan Potensi Bisnis lebih Cepat

Saya baru saja membaca salah satu bab di buku “Financial Revolution” karya Tung Desem Waringin. Sosok yang disebut-sebut majalah SWA sebagai salah satu tokoh Motivator Indonesia paling berpengaruh tahun ini.

Dan, ssst? saya sebenarnya malu…
karena saya termasuk orang-orang yang ‘telat” membaca buku ini lho!
Telat, karena saya.. hiks.. baru baca buku itu sekarang ? The “National Best Seller book”..

Apalagi ketika mengingat bahwa saya sudah sempat pegang versi cetak perdana-nya
menjelang launch enam bulan yang lalu. Ketika itu buku ini bahkan ditawarkan dalam satu paket dengan Bonus- Audio CD inspirasional… dengan harga lebih murah..

Hiks.. rada nyesel juga kok baru beli sekarang..He he, tapi no more mourning,
saya patut bersyukur karena toh sekarang, akhirnya saya masih diberi kesempatan olehNya membaca banyak hal bermakna yang terdapat dalam buku ini. (more…)

    Membangun Rasa Percaya Diri Demi Sukses Anda!

    Percaya diri adalah bagian dari alam bawah sadar dan tidak terpengaruh oleh
    argumentasi yang rasional. Ia hanya terpengaruh oleh hal-hal yang bersifat
    emosional dan perasaan. Maka untuk membangun percaya diri diperlukan alat yang
    sama, yaitu emosi, perasaan, dan imajinasi.

    Emosi, perasaan dan imajinasi yang positif akan meningkatkan rasa percaya diri.
    Sebaliknya emosi, perasaan dan imajinasi yang negatif akan menurunkan rasa
    percaya diri. Bagaimana caranya supaya diri kita selalu dikelilingi oleh energi
    positif yang maksimum? Simak kiat-kiat berikut ini :

    1. Menghilangkan pengaruh negatif.
    Sejak lahir dan sepanjang hidup kita mengalami rangsangan positif dan negatif
    dari lingkungan silih berganti. Orang yang sepanjang hidupnya menerima
    rangsangan negatif relatif akan memiliki kadar percaya diri yang rendah.
    Rangsangan negatif dapat berasal dari lingkungan keluarga, masyarakat sekitar,
    kantor atau lingkungan pekerjaan, sekolah dan sebagainya.

    Apabila kita terperangkap dalam suatu kondisi hubungan antar manusia yang
    sangat buruk, segera cari solusi. Cara pertama adalah dengan berdamai atau
    berkompromi dengan lingkungan. Terima kondisi dengan ikhlas. Tapi kalau tidak
    membawa hasil positif, lebih baik keluar saja dari lingkungan tersebut apapun
    resikonya.

    2. Pengakuan dan Penghargaan
    Pengakuan dan penghargaan orang lain terhadap keberadaan, perbuatan atau
    prestasi kita, akan sangat meningkatkan rasa percaya diri. Masalahnya tidak
    banyak orang lain yang melakukan hal itu. Hanya orang-orang positif yang mau
    melakukan hal itu.

    Solusinya adalah bergabunglah dengan kelompok orang-orang yang positif. Cara
    lain, kita bisa memulai dengan melakukan pengakuan dan penghargaan pada diri
    kita sendiri. Sekecil apapun perbuatan positif yang kita lakukan, akui dalam
    diri kita, atau beri hadiah kecil-kecilan.

    3. Pujian
    Sama seperti halnya pengakuan, pujian dapat meningkatkan rasa percaya diri
    kita. Siapa yang tidak senang kalau ada yang memuji penampilan, kepintaran atau
    keahlian kita. Pujian pun jarang diberikan pada lingkungan orang yang mayoritas
    berpikiran negatif.

    4. Memanjakan diri
    Memanjakan diri itu penting dan perlu. Karena dengan begitu, kita akan merasa
    sebagai manusia yang berharga dan bisa menghargai orang lain.

    5. Beranggapan baik terhadap diri sendiri
    Ini cara yang paling mudah untuk meningkatkan percaya diri kita, karena dapat
    dilakukan kapan saja dan di mana saja.

    6. Dapatkan input positif melalui panca indra
    Input positif dapat diperoleh lewat kisah-kisah heroik, kisah sukses, kisah
    yang motivatif dan emosional dari tokoh atau pebisnis yang sukses. Kisah-kisah
    tersebut dapat memotivasi kita untuk berpikir dan bertindak positif. Kita bisa
    mendapatkan input tersebut dari buku, kaset, dan tv.

    7. Biasakan bersikap positif
    Mulailah bersikap positif dari diri sendiri dengan melakukannya pada kehidupan
    sehari-hari. Pastikan memori kita hanya menyimpan peristiwa positif. Pandang
    orang lain secara imbang dengan diri kita. Selalu berbuat jujur. Dan tunjukan
    bahwa kita memang punya rasa percaya diri.

    Subscribe to PELUANG BISNIS ONLINE

      Sukses Dalam Kehidupan

      “Emmm… Pak, kecepatannya seratus saja,” kata saya kepada pak sopir. “Saya takut kalau cepet-cepet…,” kata saya lagi, menegaskan permintaan tadi.

      Supir rental langganan ini makin hafal dengan keinginan saya itu. Mungkin beliau bete juga, tol Bandung - Jakarta ruas Bandung - Cikampek itu tampak sepi, namun dia tidak bisa ngebut supaya lebih cepat sampai. Penumpangnya gampang cemas dengan kecepatan tinggi.

      Ya, begitulah saya, si penumpang itu. Pak supir mungkin yakin dengan mobilnya dan memang menyetir dengan kecepatan tinggi itu mengasyikkan. Namun pak supir mungkin belum mengalami apa yang saya alami. Beberapa tahun lalu saya melihat kecelakaan di tol tepat di depan mata. Sebuah minibus tiba-tiba pecah ban pada kecepatan tinggi, oleng ke kanan, menabrak pembatas jalan, lalu terbang vertikal ke udara, kemudian.. bum! Jatuh terhempas ringsek menghantam jalan. Penumpangnya berceceran keluar, ada yang masih terdengar merintih.. Allah… Allah.. Allah…. Ada yang tertelungkup diam tak bergeming, entah pingsan, entah tewas. Saya yang waktu itu ingin sekali menolong, merasa amat dilematis. Ada anak kecil di mobil saya, tampaknya akan mengguncang dia kalau membawa korban berlumuran darah ke dalam mobil kami. Yang saya lakukan kemudian adalah menelpon petugas tol untuk segera mengirim pertolongan, sambil menyesali kegugupan saya dalam menghadapi situasi mendadak seperti itu. Sejak saat itu saya selalu memakai sabuk pengaman di jalan tol, jauh sebelum hal itu diresmikan menjadi aturan kewajiban.

      “Tubrukan pada kecepatan 100 km/jam itu kira-kira sama dengan jatuh dari tingkat 10 gedung,” demikian ilustrasi saya kepada teman yang agak heran dengan permintaan saya ke pak supir. Abaikan tentang rem. Kalau pecah ban depan, rem jadi tidak berguna.Karena itu saya selalu ngeri di kecepatan tinggi. Batas kecepatan biasanya di angka 80 km/jam. Lebih dari itu, sinyal peringatan mulai berdengung di dalam kepala. Saya memang penakut.

      Bagaimana kita bisa tahu berapa kecepatan mobil melaju di jalan tol? Tentu saja dengan melihat speedometer. Salah satu sobat saya waktu kuliah adalah seorang perwira penerbang TNI AU. Dia penerbang pesawat tempur Hawk yang bisa melaju melebihi satu Mach, di atas kecepatan suara.

      “Gimana rasanya terbang di atas kecepatan suara?” tanya saya. Itu kecepatan yang sangat tinggi, sekitar 1500 km/jam.

      “Ya, biasa saja,” kata dia.

      “Loh?” saya keheranan.

      “Iya, kan kita di dalam kokpit. Jadi nggak terasa angin, nggak terasa apapun. Di luar juga langit kosong, jadi tidak ada pohon-pohon yang berkelebat cepat..” kira-kira begitu sobat saya menjawab.

      “Ooo…,” saya paham.

      Satu-satunya hal yang menunjukkan pesawat tempur itu berjalan di atas kecepatan suara adalah panel instrumen di kokpit yang menunjukkan berapa kecepatan pesawat saat itu. Panel ini jelas akurat, karena bagi pesawat terbang kecepatan adalah informasi terpenting untuk mengendalikan pesawat.

      Sejak saat itu saya peduli (’aware’ kata orang bule) dengan yang namanya ‘indikator’. Itulah cara kita mendapat umpan balik. Bayangkan Anda sedang menempuh perjalanan mudik, pasti selalu ingin tahu sudah sampai mana, jama berapa, ada apa sih di sekeliling Anda saat itu, di mana sih lokasinya di peta, supaya Anda bisa mengambil keputusan selanjutnya. Indikator menjadi hal kedua terpenting, setelah kita memiliki yang paling penting yaitu peta tujuan.

      Salah satu indikator yang cukup lama saya cari adalah ‘indikator sukses finansial’. Pencarian itu saat ini dianggap cukup dengan ditemukannya formula ‘wealth ratio‘, yang menjawab pertanyaan esensiil tentang berapa banyak sih yang kita harapkan dari hasil bekerja. Indikator itu menjadi penuntun bagi saya untuk menyusun strategi pencapaian, dan sejauh ini sangat praktis dan berhasil. Saya belum mencapai target, tapi tahu bahwa suatu ketika, tak lama di masa depan, saya insya Allah akan sampai pada target itu. jadi, indikatornya tepat.

      Kini pencarian dilanjutkan dengan pertanyaan lain yang sama pentingnya. Saya percaya bahwa tingkat pencapaian seorang manusia dalam kehidupan ini diawali dengan kemampuan merumuskan ‘pertanyaan berkualitas’ yang akan memancing otak super komputer kita untuk mencari jawabannya. Kalau dulu pertanyaan yang dirumuskan adalah, “Apa sih indikator kita sukses finansial?” maka pertanyaan kali ini lebih menantang, “Apa sih indikator kita ini di jalur benar menuju sukses di akhirat?”

      Pertanyaan yang sulit. Sebab tidak ada orang di jaman ini yang berhak memberi status, apakah kita sedang menuju sukses akhirat, atau menjauhinya. Dulu di jaman Rasulullah Muhammad, beliau beberapa kali (sebagai bentuk pengajaran) memberi status ke beberapa sahabat, si anu masuk surga, si fulan masuk neraka. Ilmu itu ada di beliau. Lalu di jaman sekarang ini kita harus berpegang pada indikator apa?

      Indikator ini semestinya adalah sebuah indikator praktis yang bisa kita pantau sendiri, persis seperti speedometer di sepeda motor atau mobil kita. Jadi kita tidak perlu orang lain yang memberi analisisnya buat kita. Percayalah, orang lain itupun sebaiknya memantau indikatornya sendiri daripada sibuk memantau indikator kita. Dia punya problem yang sama dengan kita.

      Saya yakin indikator ini penting. Saya sering merasa bahwa pada waktu tertentu, misalnya saat bulan puasa ini, sepertinya banyak orang ‘mendadak jadi shaleh’. Sehingga kadang dalam hati ini juga agak malu dengan diri sendiri. Yang tadinya jarang ke mesjid, tiba-tiba semangat untuk tarawih. yang tadinya jarang mendengarkan pengajian, tiba-tiba hobi dengan ceramah dan lagu ruhani. Kemudian lebaran tiba, sibuk silaturahmi (sambil pamer ponsel), dan hilang kembali keshalehan mendadak tersebut. Nah loh.

      Berarti pencapaian perilaku saat puasa itu sangat sesaat, bukan indikator yang praktis. Itu ibarat orang dapat proyek besar, lalu dapat uang banyak. Sekejap dia menjadi orang kaya yang sukses finansial. Lalu sibuk belanja. Lalu tak lama kemudian kembali menjadi orang yang punya hutang. Kekayaannya yang sekejap hanyalah indikator semu. Semestinya kita berpegang pada ‘wealth ratio’ itu, yang tak begitu kelihatan namun jauh lebih esensial. Seseorang boleh tampak sederhana, baju biasa saja, rumah biasa saja, kendaraan hanya sepeda motor. Tapi orang ini merdeka karena pasif income nya melebihi pengeluarannya setiap bulan. Orang ini kaya. Sebaliknya seseorang punya mobil mewah, rumah keren, dengan gaya hidup yang mewah. Tapi pasif income nya nol besar. Jelas yang ini cuman ‘kelihatan’ kaya, aslinya sih miskin. Demikian juga dengan amalan itu, jangan-jangan keshalehan mendadak di bulan puasa itu akhirnya hanya indikator yang melenakan. Merasa sudah akan sukses di akhirat, eh ternyata masih termasuk yang dimurkai Tuhan. Demikian pula dengan yang bolak-balik umroh maupun haji berkali-kali, jangan-jangan ya ditolak semua ibadahnya itu.

      Jadi apa ya, indikator yang tepat bahwa kita ini (kira-kira) menuju kesuksesan di akhirat?

      Sejauh ini, walau belum intensif dicari, jawabannya pasti ada di Qur’an dan hadits. Mari kita cari yang praktis, yang setiap saat dengan mudah kita bisa mengukurnya tanpa harus minta tolong orang lain memberi evaluasi buat kita.

      Dulu sekali waktu membaca buku Al Ghazali tentang rahasia shalat, ada satu hal yang melekat dalam benak ini. Kata Al Ghazali, kalau kita ingin bangun malam shalat tahajud, maka syaratnya adalah hari sebelumnya tidak melakukan maksiat. Kalau kita bersih, maka bangun menjadi mudah. Kalau ada maksiat, maka bangun menjadi sulit. Pengalaman sih, Al Ghazali benar. Rasanya memang ada hubungan sebab akibat yang kuat antara kualitas amal sebelumnya dengan kemudahan amal berikutnya. Berarti kalau makin lama makin nyaman beramal shaleh (shalat, sedekah, mengajar ilmu, bekerja dengan tulus, tidak ngerumpiin orang lain, dll) berarti kita di jalur yang benar. Tren nya bergerak naik, mestinya. Mungkinkah ini indikator yang tepat? Cara memberi skornya bagaimana ya?

      Atau mungkin indikator yang lebih tepat adalah jumlah shalat khusyu yang kita rasakan? Katanya, khusyu itu karunia, sesuatu yang diberikan kepada kita yang ingin bersungguh-sungguh shalat. Mendapat khusyu itu ciri kita di jalur yang benar. Jadi kalau dalam satu hari kita sholat 5 kali dan tidak khusyu semua, berarti skor ’speedometer’ kita nol (sepertinya seringkali skor kita yang ini nih!). Kalau satu sholat saja kita rasakan khusyu maka skor kita 20 persen, kalau semuanya khusyu berarti sukses skor 100 persen. Skor berguna, seperti halnya angka-angka di speedometer. Walaupun mungkin skor kita naik turun, ya nggak papa, daripada tanpa skor sama sekali.

      Sejauh ini kira-kira di sekitar itulah diduga letak indikator yang praktis untuk kita pantau sehari-hari. Semestinya indikatornya kombinasi, satu untuk hubungan kita langsung dengan Tuhan dan satu lagi untuk ibadah sosial, supaya menggambarkan amalan yang lebih luas. Misalnya, jumlah shalat khusyu dan persentase sedekah dari penghasilan. Dua indikator ini cukup praktis karena mudah memantaunya dan dapat dibuat menjadi skor. Tentu saja ini buat diri sendiri, jadi terserah masing-masing untuk membuat indikator sendiri. Yang jelas, tanpa indikator akan berakibat hidup ini menjadi sulit diarahkan, lalu bisa terjadi kita terkejut dan menyesal di kemudian hari, ketika telah tiba masa kita nanti untuk berpulang.

        Balita dan Televisi (TV)

        Terlalu sering menonton TV membuat anak sulit berkonsentrasi, misalnya saat membaca.

        Bagi orang dewasa, TV merupakan salah satu media instan untuk mendapatkan informasi. Sedangkan bagi anak-anak, TV bisa jadi teman setianya di rumah selama ditinggal orang tuanya. Itulah sebabnya stasiun TV kemudian memasukkan acara anak-anak dalam program mereka.

          Menunda Kesenangan Kecil Demi Kesuksesan Besar

          Seberapa banyak yang ingin kita raih di dalam hidup ini ?

          Apakah kita telah puas dengan kondisi saat ini, ataukah masih ada keinginan untuk terus menggapai hal-hal baru, yang selama ini belum kita dapatkan ?
          Dalam proses kita untuk mencapai tujuan itu, ada rintangan yang seringkali menghambat langkah kita sesaat. Saat kita bisa menyelesaikan rintangan itu, akan membuat langkah kita ke depan menjadi semakin kuat dan mantap. Tapi kadang-kadang, seringkali tanpa sadar, saat kita bisa menyelesaikan suatu masalah, kita merasa sudah puas dengan kondisi itu, dan langkah kita terhenti disana.

          Kita seolah sudah lupa, bahwa tujuan utama kita sebenarnya belum tercapai. Ibaratnya, saat kita bersekolah, kita mendapat nilai sepuluh dalam sebuah test harian. Dan kita sudah cukup puas dengan nilai itu, padahal ujian-ujian itu tadi hanyalah proses-proses sementara, karena bukankah tujuan utama dalam bersekolah adalah naik kelas, dan lulus ? Kesenangan-2 kecil, tentu perlu juga dirayakan, karena bisa memberikan kebahagiaan, kebanggaan dan kesenangan sementara. Tapi tentu kita tidak boleh terlena di dalamnya lalu berhenti disana. Setelah kesenangan itu selesai dirayakan, kita harus kembali bekerja keras pada jalur utama yang kita tuju. Orang-orang yang sukses di dunia ini, mereka bahkan berani menunda kenikmatan kecil mereka, demi sebuah tujuan utama yang lebih besar.

          Sebuah kisah nyata yang tepat bagaimana kita menunda kesenangan kecil demi mendapatkan kesuksesan yang lebih besar, adalah Sylvester Stallone. Dia memang kini salah satu aktor termahal di Hollywood, tapi tahukah anda bagaimana dia memulai karirnya ? Stallone lahir dari sebuah keluarga miskin di Amerika. Walau demikian, latar belakang keluarga tidak menghalanginya untuk bermimpi menjadi seorang bintang besar. Saat remaja, dia sudah sering mencoba casting di beberapa film murahan, namun itupun tidak pernah berhasil. Suatu saat, Stallone terinspirasi pada sebuah pertandingan tinju, yang membuatnya menulis tentang manuscipt film olahraga tinju, “Rocky”.

          Setelah selesai, Stallone mencoba menawarkan skrip-nya kepada berbagai perusahaan film, tapi tidak ada yang mau membelinya, karena pada saat itu memang film dengan latar belakang tinju tidak laku di pasaran. Sampai akhirnya, ada sebuah perusahaan yang mau menawar harga naskah film tersebut sebesar 75.000 dollar, sejumlah uang yang nilainya puluhan kali lipat dari uang yang pernah dimiliki Stallone.

          Saat itu, ada kebimbangan di dalam hatinya. Uang itu, cukup untuk membuatnya hidup lebih layak dan makmur. Tapi di sisi lain, Stallone ingin menjadi seorang bintang, seorang aktor terkenal, bukan seorang penulis naskah film. Jadi Stallone mencoba menawarkan kepada perusahaan film tersebut, agar dia yang menjadi aktor utamanya. Mereka menolak, karena mereka sudah memilih seorang aktor yang sudah berpengalaman untuk film tersebut, dibanding Stallone yang tidak punya latar belakang dan pengalaman di film. Negosiasi menjadi alot, karena Stallone menolak menjual naskah tersebut jika bukan dia yang menjadi pemeran utamanya. Bahkan saat harga naskah itu meningkat tiga kali lipat, dan terus meningkat hingga satu juta dollar, Stallone tetap menolaknya. Walau ia miskin dan lapar, tapi dia berani menolak uang satu juta dollar, hanya karena dia sudah punya impian yang kuat, bahwa dengan menjadi aktor, dia bisa memperoleh uang jauh lebih banyak dari uang satu juta dollar.

          Akhirnya, perusahaan film itu menyerah juga, dan mereka mengijinkan Stallone menjadi pemeran utama, dengan syarat naskah itu dijual hanya dengan harga 35.000 dollar, serta Stallone hanya akan mendapat bayaran sebagai aktor sejumlah persentase tertentu jika film itu cukup laku di pasaran. Sebuah pilihan berisiko tinggi diambil oleh Stallone. Mengorbankan uang 75.000 dollar, dan hanya mendapatkan 35.000 dollar plus tambahan lagi beberapa ribu dollar jika film itu laris. Semua orang di sekitarnya mengatakan bahwa keputusan itu adalah keputusan terburuk yang pernah diambil Stallone. Tapi Stallone tidak menggubris itu semua, karena di hatinya dia tahu, bahwa yang dia lakukan ini hanyalah menunda kesenangan sesaat, untuk mendapatkan kesenangan lain yang lebih besar.

          Pada waktu film Rocky diluncurkan, bukan saja film itu menjadi laris, tapi bahkan menjadi box office di seluruh dunia, dengan total penjualan bersih menjadi 171 juta dollar, meraih 10 nominasi untuk academy awards, serta mendapatkan satu piala Oscar. Secara spontan, Stallone langsung naik daun menjadi aktor kelas atas Hollywood, dan tawaran main film kelas satupun mulai berdatangan ke dirinya. Apa yang dialami oleh Sylvester Stallone adalah sebuah pilihan untuk berani menunda kesenangan-kesenang an kecil, dan berjuang untuk meraih kesuksesan yang lebih tinggi lagi.

          Jangan pernah terjebak dengan kenyamanan sementara, yang kadang membuat kita merasa sudah puas, padahal bukan itu sebenarnya yang kita inginkan. Nikmati hasil sementaranya, tapi tetaplah punya visi ke depan yang jelas, untuk terus mengejarnya. Sukses untuk anda !

          Subscribe to PELUANG BISNIS ONLINE

            The History of Ice Cream

            Once upon a time, hundreds of years ago, Charles I of England hosted a sumptuous state banquet for many of his friends and family. The meal, consisting of many delicacies of the day, had been simply superb but the “coup de grace” was yet to come. After much preparation, the King’s french chef had concocted an apparently new dish. It was cold and resembled fresh-fallen snow but was much creamier and sweeter than any other after-dinner dessert. The guests were delighted, as was Charles, who summoned the cook and asked him not to divulge the recipe for his frozen cream. The King wanted the delicacy to be served only at the Royal table and offered the cook 500 pounds a year to keep it that way. Sometime later, however, poor Charles fell into disfavour with his people and was beheaded in 1649. But by that time, the secret of the frozen cream remained a secret no more. The cook, named DeMirco, had not kept his promise.
            This story is just one of many of the fascinating tales which surround the evolution of our country’s most popular dessert, ice cream. It is likely that ice cream was not invented, but rather came to be over years of similar efforts. Indeed, the Roman Emperor Nero Claudius Caesar is said to have sent slaves to the mountains to bring snow and ice to cool and freeze the fruit drinks he was so fond of. Centuries later, the Italian Marco Polo returned from his famous journey to the Far East with a recipe for making water ices resembling modern day sherbets.
            In 1774, a caterer named Phillip Lenzi announced in a New York newspaper that he had just arrived from London and would be offering for sale various confections, including ice cream. Dolly Madison, wife of U.S. President James Madison, served ice cream at her husband’s Inaugural Ball in 1813. Commercial production was begun in North America in Baltimore, Maryland, 1851, by Mr. Jacob Fussell, now known as the father of the American ice cream industry. The first Canadian to start selling ice cream was Thomas Webb of Toronto, a confectioner, around 1850. William Neilson produced his first commercial batch of ice cream on Gladstone Ave. in Toronto in 1893, and his company produced ice cream at that location for close to 100 years. The ice cream division of Neilson was recently purchased by Ault Foods of London, Ont.

              Anda Pasti Bisa Bila…

              Pasar malam dibuka di sebuah kota. Seluruh penduduk menyambutnya dengan gembira. Ada berbagai macam permainan, stand makanan dan sirkus. Tetapi kali ini yang paling istimewa adalah atraksi manusia kuat.

              Setiap malam ratusan orang menonton pertunjukkan manusia kuat. Ia bisa melengkungkan baja hanya dengan tangan telanjang. Ia bisa menghancurkan batu bata tebal dengan tinjunya. Ia mengalahkan semua pria di kota itu dalam lomba panco.

              Untuk menutup pertunjukkannya, ia memeras sebuah jeruk dengan genggamannya. Ia memeras terus hingga tetes terakhir air jeruk itu terperas.

              Kemudian ia menantang para penonton, “Barang siapa yang bisa memeras hingga keluar satu tetes saja air jeruk dari buah jeruk ini, akan kuberikan dia uang satu juta.”

              Kemudian naiklah seorang lelaki, atlit binaraga, ke atas panggung. Tangannya kekar. Ia memeras dan memeras… dan memeras… tapi tak setetespun air jeruk keluar. Sepertinya seluruh isi jeruk itu sudah terperas habis. Ia gagal.

              Beberapa pria kuat dari penjuru kota mencoba, tapi tak ada yang berhasil.

              Manusia kuat itu tersenyum-senyum. Kemudian ia berkata, “Aku berikan satu kesempatan terakhir. Siapa yang mau mencoba?”

              Seorang wanita kurus setengah baya mengacungkan tangan dan meminta agar ia boleh mencoba.

              “Tentu saja boleh nyonya. Mari naik ke panggung.”

              Manusia kuat itu membimbing wanita itu naik ke atas pentas. Beberapa orang tergelak-gelak mengolok-olok wanita itu.

              Wanita itu lalu mengambil jeruk dan menggenggamnya. Semakin banyak penonton yang menertawakannya.

              Lalu wanita itu mencoba memeras dengan penuh konsentrasi. Ia memeras… memeras… memeras dan “ting!” setetes air jeruk muncul terperas dan jatuh membasahi lantai panggung. Para penonton terdiam terperangah. Lalu cemoohan mereka segera berubah menjadi tepuk tangan riuh.

              Manusia kuat lalu memeluk wanita kurus itu, katanya, “Nyonya, aku sudah melakukan pertunjukkan semacam ini ratusan kali. Dan, ribuan orang pernah mencobanya agar bisa membawa pulang hadiah uang yang aku tawarkan, tapi mereka semua gagal. Hanya kau satu-satunya yang berhasil memenangkan hadiah itu. Boleh aku tahu, bagaimana kau bisa melakukan hal itu?”

              “Begini,” jawab wanita itu, “Jika suamimu sedang jatuh sakit keras dan tak bisa bekerja mencari nafkah, sedangkan kau memiliki delapan anak yang harus kau beri makan setiap harinya, lalu kau harus kuat mencari uang meski hanya serupiah-dua rupiah, maka hanya memeras jeruk untuk mendapatkan satu juta rupiah bukanlah hal yang sulit.”

              “Bila anda memiliki alasan yang cukup kuat, anda akan menemukan jalannya”, demikian kata seorang bijak. Seringkali kita tak kuat melakukan sesuatu karena tak memiliki alasan yang cukup kuat

              Subscribe to PELUANG BISNIS ONLINE

                Kumpulan Website Yang Menyediakan Web Dan Blog Templates Gratis!

                Inilah Sebagian Daftar Website dan blog yang menyediakan Templates atau Themes Gratis untuk anda para web designer pemula dan tentunya para Blogger mania.

                Ini hanya sebagian saja untuk awal, jika saya ada informasi lanjutan akan saya update alamat-alamat yang baru, yang mungkin berguna buat anda sekalian, selamat mencoba , salam sukses

                Alamat Websitenya :

                Free Blog Templates

                www.osskins.com
                www.isnaini.com
                www.templatepanic.com
                blogger-templates.blogspot.com
                http://www.template-gratis.it/
                http://freetemplates.blogspot.com/

                Free Web Templates

                www.oswd.org
                andreasviklund.com
                www.hooverwebdesign.com
                http://www.templatesbox.com
                http://www.opensourcetemplates.org

                Free Content Management System(CMS) Templates

                www.osskins.com
                www.joomlashack.com
                www.ty2u.com

                Subscribe to PELUANG BISNIS ONLINE

                  Kumpulan Website Yang Menyediakan Web Dan Blog Templates Gratis!

                  Inilah Sebagian Daftar Website dan blog yang menyediakan Templates atau Themes Gratis untuk anda para web designer pemula dan tentunya para Blogger mania.

                  Ini hanya sebagian saja untuk awal, jika saya ada informasi lanjutan akan saya update alamat-alamat yang baru, yang mungkin berguna buat anda sekalian, selamat mencoba , salam sukses

                  Alamat Websitenya :

                  Free Blog Templates

                  www.osskins.com
                  www.isnaini.com
                  www.templatepanic.com
                  blogger-templates.blogspot.com
                  http://www.template-gratis.it/
                  http://freetemplates.blogspot.com/

                  Free Web Templates

                  www.oswd.org
                  andreasviklund.com
                  www.hooverwebdesign.com
                  http://www.templatesbox.com
                  http://www.opensourcetemplates.org

                  Free Content Management System(CMS) Templates

                  www.osskins.com
                  www.joomlashack.com
                  www.ty2u.com

                  • : 4.0

                  30 Desain Blog Yang Wow Sip Deh !!! ….

                  Smashing Magazine baru saja merilis daftar 30 desain blog yang sip deh. Coba aja cek kalo gak percaya, kali aja ada yang bikin kamu teriak Woww Sip Deh.

                  Ini salah satu desain yang jadi favorit saya.

                  tntpixel

                  • : 6.7

                  RECENT POSTS

                  MY SPONSORS

                  PARTNERS

                  Recent Readers. These are the cool and trendy people that reads my blog!Recent Readers