Membentuk manajemen harapan
Tempat Pendaftaran Calon Prajurit TNI
Begitu bunyi spanduk di pinggir jalan menuju tol Baros Cimahi. Banyak anak muda sedang duduk di lapangan, tampaknya sedang mengikuti proses seleksi.
Ada yang pingin jadi tentara, ada yang ngotot pingin jadi pegawai negeri sipil (PNS), ada yang pingin jadi pegawai bank, ada yang pingin jadi pramugari, ada yang ngebet ingin jadi artis dan berharap lolos Indonesian Idol, ada yang memilih masuk perusahaan multinasional, ada juga yang memilih kerja di ITB misalnya, walaupun antrian menjadi dosen sekarang semakin panjang dan makin tak pasti. Apa sih yang membuat mereka itu mau bertahan dengan kondisinya sekarang, yang seringkali perjuangannya tampak (dan mungkin memang) tidak enak?
Harapan.
Semua punya harapan untuk mencapai cita-cita dengan jalan yang dipilihnya. Semua punya keyakinan masing-masing bahwa jalan yang dipilih tersebut akan mampu membawanya meraih cita-cita tersebut.
Manajemen Harapan
Apa sih yang membuat seseorang menempuh sesaknya bis di pagi dan sore hari? Apa sih yang menyebabkan orang bertahan dengan menempuh pendidikan sekolah yang panjang dan melelahkan? Apa sih yang membuat seseorang mampu bertahan dalam mengarungi kehidupan ini? Harapan. Bagaimana kalau ternyata harapan itu tak juga terwujud? Bagaimana bila semua yang dilakukan itu akhirnya sia-sia? Bagaimana kalau keindahan di ujung perjalanan yang diidamkan ternyata tak seindah yang dibayangkan? Dan itu sering terjadi. Sering apa yang kita harapkan tak terjadi seperti yang kita inginkan.
Itulah pentingnya manajemen harapan.
Sebuah perusahaan tiba-tiba kehilangan suasana kerja yang bergairah. Apakah bisnis sedang lesu? Terkadang situasi bisnis justru sedang marak, namun perusahaan tersebut sering kalah dalam kompetisi. Akibatnya kegagalan berulang-ulang yang dialami perusahaan itu telah membuat karyawan kehilangan harapan. Tampaknya perusahaan mau bangkrut nih, pikir mereka. Moral bekerja pun merosot tajam.
Di sinilah peran pemimpin dibutuhkan. Apa sih salah satu tugas pemimpin itu? Memberikan dorongan motivasi. Caranya? Ceritakanlah sebuah harapan. Ceritakan bahwa kondisi yang sekarang ini bisa berubah. Banyak orang lain mengalami hal yang sama, dan banyak yang ternyata bisa meraih perubahan. Seringkali sang pemimpin itupun sudah kehilangan harapan. Kalau terjadi seperti ini memang keadaan menjadi semakin sulit.
Di perempatan jalan, seringkali saya memilih membeli makanan dari pedagang asongan daripada memberi uang kepada pengemis. Bukan berarti mengemis itu salah (situasinya cukup kompleks sehingga saya merasa tak layak untuk menghakimi), namun memberi kesan bahwa mengemis itu lebih mudah sukses daripada berjualan tentu bukan hal yang bijaksana. Saya membeli koran, kerupuk, atau kacang, untuk memberikan harapan kepada penjualnya bahwa jalan yang ia tempuh tersebut bisa memberikan hasil.
Berkali-kali saya mencoba usaha. Lebih sering gagal daripada berhasil. Namun saya akan terus mencoba dan mencobanya. Mengapa? Untuk terus memberikan harapan baru. Dengan berusaha, terciptalah sebuah peluang untuk berhasil. Walaupun peluang itu kecil, harapan yang muncul akan memberikan energi motivasi baru. Berdiam diri jelas tidak membuka peluang baru, dengan demikian harapan hanya akan tetap atau malahan menyusut.
Ada juga manajemen harapan yang sudah baku di perusahaan, yaitu kenaikan karir dan gaji. Sebenarnya dengan sebuah jalur karir yang jelas akan memberikan harapan baru tiap kali seseorang naik karir. Ada target baru, ada harapan baru akan hasil yang lebih baik. Itulah mengapa perusahaan tanpa perencanaan karir (career plan) akan mengalami kesulitan dalam memotivasi karyawan. Biasanya diganti dengan rencana kenaikan penghasilan, baik gaji maupun bonus.
Salah satu hal penting dalam manajemen harapan adalah merumuskan multi tujuan untuk sebuah aktivitas. Misalnya, tujuan bekerja di sebuah perusahaan adalah untuk mendapat penghasilan yang cukup besar, sekaligus untuk meniti jenjang karir, sekaligus untuk bisa keliling dunia, sekaligus juga untuk ibadah, dll. Dengan membuat multi tujuan ini kita akan lebih berpeluang meraih sukses dan terjaga dari frustasi karena kegagalan. Sebagian tujuan mungkin gagal, sebagian yang lain bisa tercapai.
Seorang pemimpin harus bisa memberikan harapan kepada anak buahnya. Kita semua ini pun sebenarnya adalah pemimpin, baik untuk diri kita sendiri, keluarga, maupun orang yang menggantungkan nasibnya kepada kita. Kita semua ini perlu terus menciptakan harapan. Paling tidak, untuk diri kita sendiri.
Subscribe to PELUANG BISNIS ONLINE


